Pemetaan Wilayah Rawan di Dusun Pandeyan

Pemetaan wilayah Rawan Bencana di Dusun Pandeyan ini dilakukan oleh PMI Cabang Bantul, melalui Program Dukungan Psikososial yang sudah ada diwilayah ini selama kurang lebih dua tahun. Kegiatan Pemetaan wilayah ini dilaksanakan pada tanggal 25 Agustus 2008, bersama dengan Bapak Dukuh Pandeyan dan tim Penanggulangan Bencana PMI Cabang Bantul. Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan warga berkenaan dengan wilayahbencana disekitarnya, Potensi yang dimiliki, dan tingkat kerawanan yang ada diwilayah itu. kegiatan ini dilakukan dengan menggunakan teknologi GPS dalam pembuatannya, dan melibatkan partisipatif dari warga. kegiatan di awali dengan membuat batas wilayah, dan dilanjutkan dengan memetakan jalan yang ada dan juga fasilitas umum yang dimiliki oleh Dusun Pandeyan. Setelah itu peta mentah tersebut di olah dalam komputer dan disosialisaikan kepada warga dusun Pandeyan yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat. (KOMINFO)

Diklat Lapang dan Pelantikan Anggota Baru

Korp Sukarela sebagai ujung tombak kegiatan Palang Merah Indonesia, menjadi kunci utama setiap kegiatan yang ada bukan lagi suatu kegiatan yang dapat dipandang sebelah mata saja. Namun perlu dicermati dan perlu menjadi perhatian khusus. Kita bisa membayangkan bagaimana tidak, dimasa-masaseperti saat ini dimana tuntutan ekonomi semakin tinggi, ternyata masih ada manusia-manusia mulia yang mau merelakan waktu muda mereka untuk menjadi seorang relawan. Tanpa gaji tanpa bayaran, tidur hanya beralaskan tikar ada matras itu sudah mewah. Lebih untung jika dikirim pelatihan wah itu suatu hal yang VIP. Kebanyakan orang pasti akan berfikir 1000 sampai 1 juta kali untuk masuk menjadi KSR tapi bagi mereka yang telah bergabung menjadi anggota KSR itu merupakan suatu pengalaman yang sangat berharga dan tidak ada hal yang dapat menggantikannya dan akan tetap menjadi kebanggaan bagi diri mereka sendiri.

23 sampai dengan 24 Agustus 2008 yang lalu 8 orang calon anggota KSR (Korps Sukarela) PMI Cabang Bantul telah terlantik menjadi anggota Korps Sukarela PMI Cabang Bantul, mengikuti ke dua puluh lima rekan-rekan mereka yang telah terlantik sebelumnya yaitu bertempat du Gunung Sempu. Selama menjalani masa pelatihan, mereka mendapatkan materi-materi dasar KSR yang berkaitan dengan kegiatan mereka di lingkunga Palang Merah Indonesia. Materi-materi yang mereka dapatkan antara lain HPI (Hukum Perikemanusiaan Internasional), Kepalang Merahan, Pertolongan Pertama, Perawatan Keluarga, Dapur Umum, Psikososial Support dan materi-materi yang lain. Tahapan-tahapan dalam diklat KSR PMI Cabang Bantul yang telah dilalui ialah masa orientasi Kepalang Merahan, diklat ruang, magang, diklat lapangan dan dilanjutkan dengan pelantikan. Sistem diklat semacam ini merupakan model baru dilingku PMI Cabang Bantul, karena diawali dengan adanya Orientasi Kepalang Merahan terlebih dahulu, dan juga pada saat diklat lapangan calon anggota mengadakan sosialisasi kepada warga yang ada disekitar base camp diklat lapangan. Dengan adanya sistem atau model diklat yang baru ini diharapkan selain calon anggota menguasai materi dapat juga sebagai sarana men-diseminasi-kan Palang Merah Indonesia Kapada masyarakat. Dengan bertambahnya anggota baru diharapkan dapat meningkatkan pelayanan Palang Merah Indonesia kepada masyarakat(Kominfo PMI Cabang Bantul)

Diseminasi Flu Burung

PMI Cabang Bantul dalam usahanya miningkatkan pengetahuan masyarakat berkenaan dengan bahaya flu burung, melalui SATGAS nya melakukan sosialisasi di 30 SD di seluruh wilayah Bantul. Kegiatan ini mulai dilaksanakan sejak awal Agustus dan sampai saat ini masih terus berjalan. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan anak-anak dapat mengetahui bahaya Flu Burung baik dari sumbernya, cara penularannya sampai cara pencegahannya. Secara umum kegiatan ini mengenalkan kepada anak-anak berkenaan dengan informasi Flu Burung namun pada intinya ialah mengajak anak supaya membiasakan hidup bersih dan sehat dengan Cuci Tangan pakai sabun setelah beraktifitas dan setiap akan makan.

Musyawarah Kerja PMI Cabang Bantul

Hari ini tanggal 15 Juli 2008, Pengurus PMI Cabang Bantul melaksanakan musyawarah kerja cabang yang di laksanakan di Teace, Bantul. Dalam Musyawarah kerja Cabang ini dihadiri oleh sejumlah keputusan yang berkenaan dengan kebijakan markas caban……………………..belum selesai

Tsunami Early Warning Sistem

Selama dua hari mulai tanggal 15 – 16 Juli 2008, PMI Cabang Bantul yang tergabung dalam POKJA Tsunami Early Warning Sistem Kabupaten Bantul, mengikuti pelatihan di Kebumen. Pelatihan ini diselenggarakan atas kerjasama GTZ dengan 3 Kabupaten yang berada di wilayah selatan Jawa. 3 Kabupaten yang mendapat pelatihan dari GTZ ialah Kabupaten Bantul, Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Kebumen, ketiganya merupakan pilot project pengadaan Erly Warning Sistem yang dipasang di wilayah Pantai Selatan.

Dalam Pelatihan ke X ini setiap kabupaten memaparkan hasil pemetaan yang dilakukan di wilayahnya. Dalam pemaparan ini dijelaskan area-area yang rawan terkena dampak Tsunami, area-area yang rawan ini dibagi menjadi dua bagian yaitu area Bahaya dan Area Awas. Selain pemaparan area yang ada tersebut dijelaskan pula jalur evakuasi yang aman serta area-area perlindungan Tsunami, dan juga perangkat-perangkat peringatan yang sudah dan akan dipasang.

Selain pemaparan hasil pemetaan wilayah yang diselenggarakan tersebut, juga dibahas tentang rencana pelatihan fasilitator penyebarluasan informasi tsunami, dan dilanjutkan dengan rencana sosialisasi terhadap masyarakat wilayah rawan. Diharapkan dengan adanya sosialisasi nantinya, masyarakat tidak takut lagi menghadapi gempa dan tsunami tetapi masyarakat akan tanggap dengan bahaya yang mengancam mereka.

Dalam pelatihan ini, juga dibahas mengenai rekomendasi yang akan di bawa kedaerahnya masing-masing. Meskipun pelatihan ini belum selesai, karena akan ada rencana pelatihan selanjutnya, namun setiap kabupaten yang ada ini sudah mempunyai banyak rekomendasi-rekomendasi dan arah kebijakan dalam menyelamatkan masyarakatnya.

PMI Cabang Bantul

ORGANISASI PALANG MERAH INDONESIA (PMI)

SEJARAH PMI
Berdirinya Palang Merah di Indonesia sebenarnya sudah dimulai sejak masa sebelum Perang Dunia Ke-II. Saat itu, tepatnya pada tanggal 21 Oktober 1873 Pemerintah Kolonial Belanda mendirikan Palang Merah di Indonesia dengan nama Nederlands Rode Kruis Afdeling Indie (Nerkai), yang kemudian dibubarkan pada saat pendudukan Jepang.

Perjuangan untuk mendirikan Palang Merah Indonesia sendiri diawali sekitar tahun 1932. Kegiatan tersebut dipelopori oleh Dr. RCL Senduk dan Dr Bahder Djohan. Rencana tersebut mendapat dukungan luas terutama dari kalangan terpelajar Indonesia. Mereka berusaha keras membawa rancangan tersebut ke dalam sidang Konferensi Nerkai pada tahun 1940 walaupun akhirnya ditolak mentah-mentah. Terpaksa rancangan itu disimpan untuk menunggu kesempatan yang tepat. Seperti tak kenal menyerah, saat pendudukan Jepang, mereka kembali mencoba untuk membentuk Badan Palang Merah Nasional, namun sekali lagi upaya itu mendapat halangan dari Pemerintah Tentara Jepang sehingga untuk kedua kalinya rancangan itu harus kembali disimpan.

Tujuh belas hari setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, yaitu pada tanggal 3 September 1945, Presiden Soekarno mengeluarkan perintah untuk membentuk suatu badan Palang Merah Nasional. Atas perintah Presiden, maka Dr. Buntaran yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kesehatan Republik Indonesia Kabinet I, pada tanggal 5 September 1945 membentuk Panitia 5 yang terdiri dari: dr R. Mochtar (Ketua), dr. Bahder Djohan (Penulis), dan dr Djuhana; dr Marzuki; dr. Sitanala (anggota).

Akhirnya Perhimpunan Palang Merah Indonesia berhasil dibentuk pada 17 September 1945 dan merintis kegiatannya melalui bantuan korban perang revolusi kemerdekaan Republik Indonesia dan pengembalian tawanan perang sekutu maupun Jepang. Oleh karena kinerja tersebut, PMI mendapat pengakuan secara Internasional pada tahun 1950 dengan menjadi anggota Palang Merah Internasional dan disahkan keberadaannya secara nasional melalui Keppres No.25 tahun 1959 dan kemudian diperkuat dengan Keppres No.246 tahun 1963.

PERAN DAN TUGAS PMI
Peran PMI adalah membantu pemerintah di bidang sosial kemanusiaan, terutama tugas kepalangmerahan sebagaimana dipersyaratkan dalam ketentuan Konvensi-Konvensi Jenewa 1949 yang telah diratifikasi oleh pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1958 melalui UU No 59.

Tugas Pokok PMI :
+ Kesiapsiagaan bantuan dan penanggulangan bencana
+ Pelatihan pertolongan pertama untuk sukarelawan
+ Pelayanan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat
+ Pelayanan transfusi darah ( sesuai dengan Peraturan Pemerintah no 18 tahun 1980)
Dalam melaksanakan tugasnya PMI berlandaskan pada 7 (tujuh) prinsip dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, yaitu Kemanusiaan, Kesukarelaan, Kenetralan, Kesamaan, Kemandirian, Kesatuan dan Kesemestaan.

A. Visi
PMI diakui secara luas sebagai organisasi kemanusiaan yang mampu menyediakan pelayanan kepalangmerahan yang efektif dan tepat waktu, terutama kepada mereka yang paling membutuhkan, dalam semangat kenetralan dan kemandirian.

B. Misi

  1. Menyebarluaskan dan mengembangkan aplikasi prinsip dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan sabit Merah serta Hukum perikemanusiaan Internasional (HPI) dalam masyarakat Indonesia.
  2. Melaksanakan pelayanan kepalangmerahan yang bermutu dan tepat waktu, mencakup:
    + Bantuan kemanusiaan dalam keadaan darurat
    + Pelayanan sosial dan kesehatan masyarakat
    + Usaha Kesehatan Transfusi Darah
  3. Pembinaan Generasi Muda dalam kepalangmerahan, kesehatan dan kesejahteraan.
  4. Melakukan konsolidasi organisasi, pembinaan potensi dan peningkatan potensi sumber daya manusia dan sumber dana untuk menuju PMI yang efektif dan efiesien.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.